Putih Dan Abu-Abu ?
Menangisi suatu penyesalan sama saja
Jumat, 15 Juli 2011
Hanya aku dan tuhan
Dan ini kisah dimana aku dan tuhan yang tahu bagaimana perasaanku saat ini yang sedang
hancur lebur seperti di guncam gempa, kisah labilisme para remaja yaitu mendapatkan
Kesenangan dalam hidupnya dan Keburukan dalam mimpinya yang terjadi dalam jiwanya
terkadang hidup membosankan itu mimpi buruk yang dimana saya menjadi teman di dunia maya
terikat erat budaya modern,
Ini bukan cerita indomieku yang lagi ngetrend ini adalah cerita fakta hidup para labilisme
hidup modern kini sangat membutuhkan sesuatu alat canggih yang bisa menghubungkan orang satu ke orang lain dan saya terpuruk dan slalu terpojokan hanya iri dengki tidak ada alat telekomunikasi modern karena kehendak tuhan saja yang tidak mengijinkan saya membawanya karena 3 kali saya tlah di tegur, kini hanya hidup serba apa adanya duduk manis di depan layar kaca dan tidur manis diatas ranjang beserta selimutnya inilah yang sangat membosankan tiap malam tidak ada tanda :) karena sudah menghilang.
Dan rahasiaku dan tuhan mungkin sekian dulu karena aku takut tuhan marah karena rahasiaku terbongkar !
Rabu, 06 Juli 2011
Buka Kartu
Manusia mempunyai sisi baik dan sisi buruk pastinya.
seperti saya yang selalu menerima sisi buruk karena semua
keburukan dalam diri saya akan menjadi celaan hinaan bagi
orang yang tidak suka dan saya juga menerima celaan dan hinaan mereka.
karena celaan itulah yang akan membentuk karakter saya supaya
menjadi manusia yang lebih baik dari pada sebelumnya......
(Hujatan air ludah)
Kalian pasti akan belum pernah kena hujatan air ludah
ini memang fakta hujatan ludah itu bagi saya manfaatnya sangat luar biasa
walaupun sebagian orang jijik dengan air ludah tapi saya sudah biasa karena
saya juga mempunyai kelenjar ludahh..
karena hujatan ludah dari teman-teman saya itulah saya bisa begini menjadi orang
yang bisa berpikir dari sebelumnya
(BERSAMBUNG)
Selasa, 05 Juli 2011
Cinematograph
Melihat gambar lebih hidup,cekidot !
Dunia telah dibuat terpesona oleh foto sejak foto ditemukan lebih dari satu abad yang lalu. Namun, saat video datang hal menjadi lebih baik lagi. Seiring dengan waktu, kita telah belajar untuk mencintai keduanya; gambar diam dan bergerak. Sekarang, di abad ke 21, sebuah tim seniman menggabungkan keduanya dengan cara yang tidak biasa.
Ada tutorial untuk menghidupkan foto-foto ini dengan aplikasi edit foto
yang mengunakan video merubah menjadi format gif
MENUJU TEMARAM
Lorong sunyi
tembok putih
selimut yang terlipat rapih
jejak langkah nan kian mendekat
inilah saatnya
kumenanti yang tercinta
cabut jarum dari denyut nadiku
semerbak mawar yang menghitam
jatuh kan terpendam
ooh sudah maafkanlah hati ini
sejuta mimpi yang tertunda
ku dengar malaikat bernyanyi
nyanyikan lagu tentang mimpi
mimpi indah yg kutinggalkan, kini
sebut namaku skali saja
ku kan slalu ada disana
disisiku kau kan kujaga
selama-lamanya
tangan kecil bidadari
lembutnya menyentuh pipiku
temaram senja yang menghadang
ragu ku menghilang
oh tuhan maafkanlah,, dosa ini
yang terus menghibur diri
ku dengar malaikat bernyanyi
nyanyikan lagu tentang mimpi
mimpi indah yg kutinggalkan, kini
sebut namaku skali saja
ku kan slalu ada disana
disisiku kau kan kujaga
selama-lamanya…
BARISAN NISAN
matahari terlalu pagi mengkhianati
pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan
pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun
sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat menolak kembali terisi
sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodorant
atau mungkin dalam limbah dan kotoran
atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14 inci
yang menawarkan hasrat pembangkangan ala Levi’s dan Nokia
atau dalam 666 halaman hikayat para bigot dan despot
yang menari ketika jelaga zarkot berangsur menjadi kepulan hitam
berselubung Michael Jordan di pojokan pabrik-pabrik ma’lun para
produsen kerak neraka berlapis statistik
pembenaran teatrikal super-mall
opera sabun panitia penyusun undang-undang pemilu
yang mencoba membanyol tentang kekonyolan demokrasi
yang rapi berdasi menopengi mutilasi pembebasan dengan sengkarut argumen basi
tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja
para sosok pembaharu dunia bernama PASAR BEBAS dan perdagangan yang adil
untuk kemudian memperlakukan hidup seperti AKABRI dan dikebiri matahari
terlalu pagi mengkhianati
dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi
menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga
bernama Arjuna dan Manusia Laba-laba
pahlawan dari Cobain hingga Visius
dari berhala hingga anonimous bernama Burung Garuda Pancasila
yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi sepejal bebatuan yang melayang
pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Firaun berkhakis
yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi setiap pojokan
bahkan di kakus umum dan selokan mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan
maka setiap angka menjadi maka dan makna
ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK
untuk menjaga stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Panton sebagai panduan kebenaran
sejak hitam dan putih hanya berlaku di hadapan mata sinar xerox
menolak terasuki setan dan tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon
degungan Big Mac dan es krim cone yang berseru,
“Beli! Beli! Beli! Konsumsi, konsumsi kami sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”
oh… betapa menariknya dunia yang sudah pasti
menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi
dengan janji pahala bertubi
dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti dalam kala
ketika periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi
dan kekuatan hanya berlaku paska konsumsi cairan suplemen, tonik dan para biggot bertemu kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederatan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau, hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru
dan merah
dan putih
Oh betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA
sehingga pion-pion negara yang berkubang di belakang pembenaran stabilisasi nasional
menemukan pembenaran evolusi mereka dengan berpetakan saluran-saluran pencerahan
para rock-stars yang lelah berkeluh-kesah
kala peluh mengering kasat di hadapan pasanggiri lalat telat pasar
dan kilauan refleksi etalase dan display berhala-berhala
berskala lebih taghut dari ampas neraka diantara robekan surat rekomendasi negara donor
perancang undang-undang dan fakta-fakta anti-teror
para arsitek bahasa penaklukan para pengagung kebebasan
kebebasan yang hanya berlaku di hadapan layar flatron kemajemukan ponsel demokrasi kotak suara dan pluralisme gedung rubuh
Oh betapa agungnya dunia di hadapan barisan nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati
Maka jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini
wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih
jangan izinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan
wahai bentangan seluloid dan narasi
dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu anakku,
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku, mentariku!
Jangan sedetik pun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
lelap tertidur tanpa satu mata membuta tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
bintang dan sabit
palu dan arit
bumi dan langit
lautan dan parit
dan sayap dan rakit
sehingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar
memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata, “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati..
Langganan:
Postingan (Atom)







